Pengenalan Digital Marketing 2 : Apakah Arti New Normal? Apakah Anda Siap?

Digital is New Normal

Apa itu “New Normal”? Kembali lagi dengan saya, Daniel Sastraamidjaja, seorang digital marketer yang pernah berhasil meningkatkan penjualan online dari 20 juta per bulan hingga 14 miliar per bulan dalam waktu kurang dari 1 tahun.

Kali ini saya bahas sedikit di luar topik Digital Marketing, namun masih ada hubungannya. Bulan Mei 2020 ini, banyak sekali yang membahas tentang “New Normal”. Saya akan coba menjelaskan secara simple dan sederhana.

Singkatnya, New Normal adalah sebuah keadaan baru setelah kejadian luar biasa. Misalnya, tadinya kita single alias jomblo. Kemudian kita ketemu seseorang yang cocok dengan kita, dan menikah. Setelah menikah, tentunya kehidupan dan pola pikir kita jadi berbeda, dan kita harus membiasakan diri dengan itu. Itulah yang disebut “New Normal”

Bulan Mei 2020 ini banyak negara mulai melonggarkan lockdown setelah terlihat bahwa pandemic Covid-19 alias Corona ini menurun penyebarannya. Akibat dari lockdown tersebut juga, terjadi perubahan pola hidup terutama dari cara kita bekerja, beraktivitas, berkomunikasi, dan berbisnis. Saya akan membahas “New Normal” dari segi bisnis.

  1. Kita dipaksa untuk adaptasi teknologi baru, segaptek apapun. Sebelum COVID-19, banyak yang gak ngerti teknologi memakai alasan “saya gaptek nih”. Dalam keadaan “New Normal”, alasan itu sepertinya sudah harus dibuang. Mengapa? Mau tidak mau, kita dipaksa untuk memakai teknologi-teknologi baru yang menyebabkan kita harus mengerti cara memakai nya. Contoh paling jelas adalah Video Meeting seperti Zoom, Google Meet, dan lain2. Sebelum pandemi, Video Meeting hanya digunakan sebanyak 15% dalam pekerjaan di seluruh dunia. “New Normal” mengakibatkan peningkatan penggunaan Video Meeting menjadi 86,7%.
  2. Bekerja/Libur hanyalah sebuah mindset. Dengan adanya keadaan “Work From Home” atau “Bekerja di Rumah”, kita jadi terbiasa bekerja di rumah. Dari pengalaman pribadi saya, saya merasa jauh lebih efisien ketika bekerja di rumah. Beberapa teman saya yang pekerja kantoran juga merasakan hal itu. Perjalanan ke kantor yang penuh dengan kemacetan serta menguras energy mengakibatkan produktivitas yang berkurang. Dengan bekerja di rumah, biaya operasional kantor dapat dipangkas. Kembali lagi, kita mau kerja atau tidak hanyalah sebuah mindset di pikiran kita.
  3. Marketing offline dipaksa adaptasi menjadi marketing online. Ini yang sering saya temui, beberapa pebisnis merasa mereka tidak butuh digital marketing sama sekali. “Untuk apa? Pasar saya gak dapet dari online” kata mereka. Sekarang, mereka berlomba – lomba belajar digital marketing. Sayangnya, banyak yang dialami adalah pelajaran digital marketing yang diterima kurang tepat untuk bisnis mereka, belajar nya teknik semua. Padahal, belajar digital marketing adalah soal konsep, sehingga mampu adaptasi apapun bisnis nya.

Bagaimana belajar konsep digital marketing? Stay tuned terus di blog saya ya. Yuk kita hadapi “New Normal” ini sama2, jangan takut dan gentar. Siapa bilang keadaan ini membuat kita sulit? Saya Daniel Sastraamidjaja, seorang digital marketer. Sampai Jumpa!