Tingkatkan Bisnis Anda Dengan Bersyukur

Posting ini saya kutip dari status seorang teman Facebook saya:
https://www.facebook.com/RicFrederica

Bila rekan2 berminat untuk menjadi teman beliau, silahkan segera langsung cek link Facebook di atas.

KUTUK UANG, KUTUK BARANG

Ada banyak orang, kalau tibanya waktu untuk keluar uang, membayar gaji staff domestik; membayar listrik, membayar tagihan; membayar belanjaan, wajahnya kusam sambil menggerutu:

  • “Mahal banget nih barang. Bikin bangkrut deh!”
  • “Ya ampun, langsung miskin aku!” sambil memperlihatkan dompetnya yang kosong.
  • “Barang ginian aja, nyusahin, mbayar lagi!”

Spontan sih, mungkin ada yang langsung ketawa menimpali; “duit lu masih banyak boss.” Ada yang sekedar celotehan iseng, buat lelucuan. Ada juga yang serius mengimaninya.

Heii. Stop!

Ketika kita mengeluarkan uang untuk membeli sesuatu, atau membayar sesuatu, ya keluarkan saja. Ikhlas. Jangan merutuki diri “bangkrut deh.”, “tambah miskin sudah”, “sial! sial! sial!”. Beneraan, mentalmu bisa bangkrut dan pelan-pelan miskin, selalu sial dalam segala hal, akibat seeing menyumpahi diri sendiri.

Banyak orang yang jatuh kesulitan sebenarnya bukan disebabkan oleh keadaan, tapi karena sikapnya sendiri, bacotannya sendiri, yang akhirnya terprogram, jadi habit buruk dan lambat-laun jadi kenyataan.

Karena arah perkataannya, arah prilakunya selalu kepada kutuk, kesialan, apes, bangkrut, miskin dan banyak hal negatif lainnya. Bagaimana jika kalimat-kalimat negatif itu diganti dengan kalimat-kalimat:

  • “Semoga benda ini awet.”
  • “Semoga setelah pake ini jadi gampang pekerjaanku.”
  • “Ah sukurlah terbeli juga. Semoga panjang jodoh dengan benda ini.”
  • “Aduh senang banget. Warnanya bagus, barangnya kokoh, sempga banyak kue-kue enak lahir dari mixer ini.”
  • “Ga apa-apa baru bisa beli yang ini. Nanti kalau ada rejeki, bisa beli yang lebih baik.”

Ini akan lebih baik. Ada sebuah penguatan dalam dirimu bahwa sejumlah uang yang kau tukarkan dengan benda-benda yang kau beli, akan mendatangkan kebaikan. Ada sikap hati yang baik, bahwa uang yang kamu keluarkan bukanlah kesia-siaan.

Akan lebih baik lagi jika sambil membayar, mendoakan penjualnya.

  • “Laris manis ya mbah.”
  • “Semoga bermanfaat ya pak. Dagangannya laku. Bapak cepat pulang.”

Wong benda yang ditukar dengan uang kita itu juga akan jadi milik kita.
Jika dalam bentuk sembako atau makanan, akan masuk ke perut keluarga kita.

Jangan digerutui. Jangan disumpahi.
Justru perlu disyukuri agar mulus jalannya mengalir jadi berkat dalam hidup kita.

Seorang teman saya pernah berkata,

“Saya sengaja menyelipkan kertas yang sudah saya semprotkan dengan pengharum segar ke dalam dompet. Tiap buka dompet selalu timbul perasaan senang, segar. Alhasil, tiap saya membelanjakan sesuatu, saya nyaris selalu tersenyum. Orang yang menerima uang dari saya siapapun dia, ikut senang menikmati harumya uang itu dan ikut tersenyum juga.”

Demikian pula dalam hal membayar hutang. Hutang terjadi agar bisa kita memiliki sesuatu di awal padahal belum waktunya. Kalau ikut waktunya, mungkin baru tahun depan kamu pakai. Tapi karena tak sabaran, terdesak, ya sudah pinjam dulu, berhutang dulu.

Bayarlah hutangmu tepat waktu, dengan hati lapang. Jangan menahan-nahan kemudahan bagi orang lain.

Jangan sampai apa yang sudah kita miliki / kita pakai dengan berhutang,
diiringi kutukan dari yang memberi hutang.

“Minjam gampang, mbayar susah. Gak bakal senang lu!”

Ingat,
Manusia lebih gampang mengumpat – memaki dan mengutuk ketika ia sedang dalam kondisi yang tak baik.
Percuma berdoa siang malam, pencintraan yang hebat di mata orang lain, tapi ada pemilik hati yang meratapi perbuatanmu.

Lebih bagus lagi,
Bebaskan dirimu dari hutang piutang sesegera mungkin.
Kurangi kebiasaan hidup yang konsumtif.
Mulai hidup minimalis.

Seorang peserta Chit, Chat & Chew kemarin berkata,
“Semakin banyak benda yang kau miliki, itu artinya hidupmu hampa.”

Degh.
Gotcha!

Ric Erica

Link Asli: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10158136375134424&id=658894423