Celebgram vs Key Opinion Leader, dan Pengaruhnya Terhadap Branding & Sales

Artikel ini adalah tanggapan saya dari seorang teman Facebook:

Sebelumnya gw mau ngucapin terimakasih banyak buat Mel Ita Car yang udah repot2 bikin post panjang soal celebgram, padahal gw cuma nyeletuk dikit di postingan soal si petir 😁Kayak nya kalo gw bahas topik ini cukup menarik ya, so gw memutuskan untuk menulis agak panjang soal celebgram ini.

Btw, tulisan ini gw rangkai dari pengalaman gw sebagai Digital Marketing Coach, di mana gw sudah cukup kenyang ngobrol dengan manager2 celebgram + youtuber di Indonesia, serta ada beberapa temen gw yang memang udah jadi celebgram 🙃

Oke, kita mulai dari istilah “celebgram” yah, atau biasa disebut “influencer”. nah dari kata nya aja, mungkin temen2 bisa nebak artinya. “Celebgram” itu singkatan dari “Celebrity of Instagram”, artinya selebritas di aplikasi Instagram (yang tadinya cuma aplikasi galeri foto doang).

Jaman dulu, untuk mendapatkan status “selebritas”, banyak hal yang harus dilalui. Pertama2, kita harus mengikuti seleksi casting film / sinetron / media visual lainnya, itupun banyak persyaratannya. Kemungkinan seseorang untuk lolol seleksi itu kuecillll bener. Nah udah gitu harus syuting, bisa tiap hari apalagi kalo ada adegan yg diulang2.

Setelah syuting, nunggu film nya jadi dan ditonton banyak orang. Terus apakah setelah itu sudah jadi “selebritas”? Belum…. Film nya harus sukses dlu, minimal akting nya benar2 nempel di ingatan penonton deh. Nah kalau sudah dapat cukup banyak orang yang kenal kita dari film, baru deh jadi “selebritas”.

Jaman sekarang? Well…. Relatif cukup mudah sih untuk jadi celebgram. Apalagi berkat bantuan medsos lainnya kayak Facebook, Twitter, Youtube, dll. Ditambah adanya media berita online dan messenger kayak Whatsapp. Semuanya bisa diakses dari hape, cukup pake internet! Itu aja? Gak dong… Harus ada konten dan faktor lainnya juga.

Nah saya bahas beberapa ya:

  1. Jadilah orang yang kontroversial. Kenapa? Supaya terlihat beda dr orang lain dan banyak diomongin!
  2. Bikin tema konten yang menye2 / receh / ngaco / prank2 gak jelas. Sorry to say, karena pendidikan di Indonesia belum okey (semangat ya Pak Nadiem) makanya banyak yg pendidikannya rendah ya sukanya begituan.
  3. Punya body bohay / tampang cakep (cwo / cwe), bikin konten sambil showing2 dikit lahhhh (17+ ini)
  4. Kebantu status atlet / artis / pejabat / figur publik lainnya. Karena memang dasarnya sudah terkenal ya otomatis lebih mudah jd celebgram, kayak yang dibahas cici Mel yang cantik itu 😁
  5. Hambur duit aja, beli followers dan likes. Ini cara yang bahaya ya guys, jangan dilakukan. Karena followers dan likes yang didapat adalah PALSU, gak akan bagus untuk jangka panjang.

Sekarang udah ngerti ya soal celebgram? Sebelum lanjut, gw mau bahas dikit soal branding & sales. Kalau temen2 lihat picture yang piramida terbalik (tolong jgn kasih liat F*I, ntar gw disangka iluminati), Sebenarnya sales yang terjadi adalah hasil dari branding yang efektif. Di dalam branding sendiri ada beberapa faktor, nah untuk soal celebgram ini gw mau bahas 2 istilah yaitu “impressions” dan “visualization”.

Audience Funneling

Masih ngikutin? Oke. Impressions adalah jumlah berapa banyak produk / merk kita dilihat. Visualization adalah visualisasi dari produk tersebut kalau digunakan oleh kita. Contohnya, kalau kita lihat iklan es krim dalam bentuk gambar es krim nya saja, itu disebut impressions. Beda kalau kita lihat iklan orang makan es krim, secara tidak sadar kita melakukan visualization. Kita membayangkan kalau kita makan es krim tersebut, “edan ngeunah pisan” kalo kata orang Sunda mah.

Nah sebuah branding yang efektif harus memiliki faktor impressions dan visualization yang baik, tidak bisa berdiri sendiri. Mengapa? Manusia adalah makhluk yang unik. We see, we think, we do. Jumlah impressions yang banyak tanpa visualisasi yang baik tidak akan menggugah orang untuk membeli produk kita. Oh iya satu lagi, jangan lupakan yang nama nya target market. Logika nya, jangan jual sisir rambut ke orang yang gak punya rambut sama sekali. Bisa2 kita malah dituduh menghina 😅.

Masih nangkep sampe sini? Terimakasih ya untuk yang masih mau baca tulisan ini, dikit lagi koq 🙂. Sekarang kita balik lagi ke soal celebgram tadi ya. Supaya lebih jelas gw mau cerita pengalaman gw. Gw punya temen, dia produksi parfum unisex (untuk pria dan wanita). Sebelum ketemu gw, dia udah keluar duit 30 juta ke artis JI (lihat foto, tau lah ya namanya).

Celebgram JI

Nah uang sebanyak itu hanya untuk bayar 1x post endorse di instagram pribadi doi. Yang lihat banyak? Yoi. Yang likes banyak? Yoooaaaa. Terus branding & sales nya gimana? NOL BESAR. Nah terus ada satu lagi nih, namanya OL (lihat foto lagi ya, yang ngikutin tas2 mihil similikiti harusnya tau).

Celebram vs Key Opinion Leader
Key Opinion Leader OL

Hasilnya secara angka tidak sebesar postingan JI, tapi branding & sales nya SUKSES BESAR. Terakhir itu temen gw yang jadi videografer nya bilang, dia sampe nolak2in tawaran endorse saking banyaknya 😆. Padahal secara angka, menang JI ya? Nah balik lagi, tadi gw bahas soal impressions, visualization, dan target market. Jadi memang postingan JI itu cuma posting foto produk doang, dan followers dia ya banyak nya menengah ke bawah. Nah kalo si OL, coba perhatiin Instagram / Youtube dia deh.

Visualization nya dapet, impressions nya mantep, dan memang yang follow dia suka fashion (followers organik). Nah logikanya followers OL ini kan suka fashion2 mihil ya, so pasti kalangan menengah ke atas. Sampe sini sudah cukup jelas ya? Sekarang gw mau bahas soal KOL. Bukan makan daging anjing dengan sayur KOL ya, tapi Key Opinion Leader.

Apa tuh KOL? Gampangnya gini aja. Kalau kita menjadi fans sejati seseorang, apapun yang dikatakan oleh orang tersebut tentu kita ikuti kan? Nah KOL itu salah satunya adalah celebgram yang sudah memiliki die-hard fans itu, dalam jumlah banyak. Apa yang membedakan JI dan OL? JI adalah seorang celebgram biasa, OL adalah seorang celebgram yang sudah menjadi KOL.

Yang menarik, temen gw yang videografer nya OL itu sempat cerita begini: OL pernah jadi brand ambassador F**E Coffee, dan followers dia banyak yang komen “Ohhh F**E Coffe itu punya OL ya?”. Karena memang OL ini seorang KOL yang bagus, akhirnya malah brand F**E Coffee kebanting sama doi. So, seorang KOL juga ada tantangannya hehehe…

Nah yang terakhir, apakah seorang celebgram harus punya attitude yang bagus? Tergantung, mau jadi celebgram tipe apakah kita? Kalau memang cuma ngejer terkenal secara kuantitas sih, silahkan banyakin kontroversi dan receh2an itu. Tapi kalau benchmark nya celebgram seperti OL, ya ga bisa cara seperti itu. Perhatikan kualitas foto dan video yang di posting, jaga konsistensi upload, bikin tema yang bervariasi, dan hal2 lain yang kalau gw bahas ntar kepanjangan.

Postingan ini aja kayaknya udah panjang deh hehehe…Begitu saja deh pembahasan gw. Kalau teman2 sekalian mau tanya lebih lanjut ttg topik ini, silahkan langsung dm gw ya. Atau boleh share kalau menurut temen2 postingan ini membantu banyak orang. Boleh komen juga, gw bakal jawab sebisa nya gw.

Daniel Sastra Amidjaja
Digital Marketing Coach
Pernah meningkatkan omset penjualan online klien hingga 70.000% dalam 11 bulan.

2 thoughts on “Celebgram vs Key Opinion Leader, dan Pengaruhnya Terhadap Branding & Sales