Ringkasan Zoom Meeting – UKM Way Against COVID-19

Kali ini saya, Daniel Sastraamidjaja, akan membagikan ringkasan dari hasil zoom meeting dengan figur yang terlibat langsung di pemerintahan, dengan bahasan bagaimana caranya agar UMKM bisa bertahan dari gempuran COVID-19, dan bagaimana langkah ke depannya.

Meeting dibuka oleh Pak Yongky dengan membeberkan keadaan UMKM di Indonesia saat ini. Beliau menceritakan apa yang rekan2-nya alami, bahwa saat ini banyak UMKM di Indonesia sedang mengalami kesulitan yang luar biasa, bahkan ada beberapa yang lagi “pingsan”. Setelah itu, beliau mempersilahkan Pak Agus Santoso untuk membuka topik tentang kebijakan Pemerintah Indonesia.

undefined

Secara garis besar, pemerintah berharap pandemi ini akan berakhir di akhir Juni 2020. Nah mengapa akhir2 ini respon dari pemerintah terkesan lambat? Karena adanya birokrasi, politik, dan proses yang tidak semudah membalikkan tangan. Ada proses lobby dengan DPR Komisi VI, dan lobby2 lainnya sebelum sebuah kebijakan dapat diaplikasikan.

Sebenarnya, bahkan sebelum pandemi COVID-19, saat ini memang jadi prioritas pemerintah untuk membantu sektor UMKM dan Koperasi di Indonesia yang mempengaruhi langsung kehidupan 63 juta penduduk Indonesia. Empat (4) prioritas tersebut adalah:

  1. Meningkatkan export produk UMKM, dengan berfokus pada produk2 yang bahan bakunya tersedia di nusantara Indonesia. Tiga produk yang jadi andalan export adalah home decor, busana muslim, dan produk herbal.
  2. Mendorong UMKM agar mampu menyediakan subtitusi barang2 import yang selama ini dipakai untuk keperluan industri.
  3. Prioritas UMKM dalam memenuhi pengadaan barang dan jasa untuk pemerintah. Produk / Jasa yang dipilih harus sudah memenuhi proses kurasi, sehingga kualitasnya pun tidak sembarangan.
  4. Transformasi perijinan usaha jadi pendaftaran usaha, dengan cara mempermudah birokrasi nya melalui penerapan Omnibus Law, dengan segala pro kontra yang menyertainya.

undefined

Nah ternyata, dalam perjalanannya, kita semua tahu bahwa terjadi wabah COVID-19 ini. Pemerintah sebenarnya sedang bekerja dengan sangat keras untuk menghadapi keadaan sulit ini. Akibatnya, terjadi perubahan prioritas sebagai berikut:

  1. Memperluas program bansos (safety net), yang tadinya hanya ditangani oleh Kemensos, sekarang diperluas dengan tujuan untuk menjaga keberlangsungan UMKM, dengan jumlah total 135 T.
  2. Penghematan APBN besar-besaran yang dialihkan untuk pengadaan alat dan penyelenggaraan jasa kesehatan, di mana alokasi dana sejumlah 75 T diutamakan untuk UMKM yang menyediakaan alat2 kesehatan.
  3. Alokasi anggaran untuk penyelamatan usaha sebesar 225 T, yang ditujukan untuk restrukturisasi kredit dan dana talangan untuk bank dan koperasi.
  4. Alokasi anggaran untuk menjamin distribusi bahan baku pangan dan pokok. Pemerintah memastikan bahan baku pangan dan pokok ini tersedia selalu di pasar.
  5. Alokasi anggaran untuk stimulus daya beli masyarakat. Tadinya, anggaran ini dipersiapkan untuk tahun 2021 agar UMKM yang terpilih dan produknya sudah lolos quality control, bisa naik kelas sampai IPO ke pasar saham.
  6. Pengurangan pajak untuk 19 sektor usaha dan UMKM.

undefined

Kembali lagi ke Pak Yongky Susilo. Pak Yongky kembali mengutarakan problem utama UMKM yang sering diutarakan secara langsung kepada beliau, yaitu:

  • Konsistensi kualitas produk ketika sudah di produksi masal, banyak kasus produk2 ini kualitasnya turun karena UMKM susah mendapat pendanaan untuk membeli mesin/alat agar mereka bisa produksi masal.
  • UMKM sangat lemah di ilmu marketing dan branding. Kemendag sudah cukup membantu dengan memberikan beberapa design dan bungkusan yang bagus, namun masih kurang.
  • UMKM tidak memiliki pengelolaan dan disiplin keuangan yang baik, karena mereka tidak mengerti.

Selain membahas pentingnya peran UMKM, Pak Agus juga menjabarkan pentingnya peran koperasi untuk membantu memulihkan perekonomian. Beliau cerita pengalaman ketika sedang melakukan kunjungan kerja ke Amerika. Walaupun Amerika negara kapitalis dan individualistis, anehnya Koperasi di sana sangat maju. Ternyata, basic kerjasama di antara mereka adalah adanya kesamaan kepentingan dan SATU tujuan yang jelas. Berbeda dengan Indonesia, memang sih kita punya nilai gotong royong… Tapi tujuannya belom sinkron jadi gak jelas.

Lalu Pak Yongky sebagai moderator memberikan waktu dan kesempatan kepada Pak Leonard Theosabrata untuk mengutarakan pandangan beliau selaku Dirut SMESCO, yang merupakan brand dari Lembaga Layanan Pemasaran Koperasi dan UKM (LLP-KUKM) Kementerian Koperasi dan UKM RI, didirikan pada Maret 2007.

undefined

Setelah perkenalan singkat tentang cerita hidup beliau serta perjuangan bisnis nya, Pak Leo bercerita bahwa beliau mejabat sebagai Dirut SMESCO sejak Januari 2020 serta sudah memiliki berbagai macam ide untuk dilaksanakan, namun terhambat oleh pandemi COVID-19.

Beliau memaparkan beberapa tips dan trik agar UMKM mampu survive di tengah tantangan seperti ini:

  • Identifikasi pengeluaran yang gak perlu, kemudian lakukan penghematan.
  • Praktikkan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah.
  • Melakukan Cuci Gudang untuk seluruh inventory/stok barang agar jadi cash.
  • Convert likuidasi/cash jadi barang yang laku saat ini.
  • Negosiasi dengan bank/landlord mengenai keringanan pembayaran.
  • Jangan lupa tetap beriklan di media sosial yang gratis, walaupun dalam keadaan seperti ini. Perusahaan yang tidak paniklah yang bertahan.
  • Kekompakan antara pengusaha dan karyawan saat ini menjadi sangat penting, ajak mereka diskusi bagaimana cara untuk bertahan paling tidak sampai Juni 2020.
  • Kalau sampai PHK, tetap perhatikan kesejahteraan mereka dengan memberikan tunjangan minimal agar mereka bisa terus menjaga kelangsungan hidupnya.

Pak Leo juga menekankan pentingnya memiliki uang cash di saat2 sulit spt ini. “Cash is king at the moment“, kata beliau.

Kemudian Pak Yongky Susilo memberikan pertanyaan singkat tentang bagaimana caranya agar bisnis setelah COVID-19 ini berlalu bisa segera bangkit, terutama yang SMESCO akan lakukan untuk membantu UMKM. Secara garis besar ada 3 hal yang dilakukan SMESCO:

  1. Mendorong UMKM untuk melakukan transformasi digital, dengan menyiapkan platform trading dan vocational.
  2. Menghimbau untuk pengusaha / karyawan yang masih memiliki modal tenaga / keuangan untuk membantu sesama pengusaha.
  3. SMESCO sedang melakukan program piloting Kakak Asuh UMKM, yaitu melatih 10.000 digital marketer di Indonesia selama 14 hari untuk mengadopsi 3 UMKM, agar program digitalisasi bisa berjalan dengan baik.

Setelah itu, akhirnya dibukalah sesi tanya jawab.

Pertanyaan 1:
Apakah ada informasi bakal ada insentif buat perusahaan yang tidak mem-PHK karyawannya? Kalo nombok terus juga gak tahan. Padahal kalo di PHK, mereka bisa daftar kartu Pra Kerja. Terimakasih.

Jawaban oleh Pak Agus: Ini belum diusulkan ke pemerintah, namun kembali lagi tergantung karyawannya juga, ada beberapa yang berpikiran bisa dapat jamsostek dan prakerja kalau di PHK. Untuk yang di PHK, pemerintah sebenarnya sudah menyediakan 2 stimulus, yaitu kursus online & kartu prakerja.

Pertanyaan 2:
Saat ini di Jakarta ada kegiatan usaha UMKM yang dipaksa tutup oleh satpol PP, padahal ada pengecualian menurut pemerintah pusat, yaitu UMKM yang mendukung kegiatan Export. Solusi?

Jawaban oleh Pak Agus: Silahkan minta surat rekomendasi dr kementerian terkait, sehingga bisa jadi pengecualian.

Pertanyaan 3:
Bagaimana membedakan koperasi yang bodong dan benar2 koperasi?

Jawaban oleh Pak Agus: Koperasi yang bodong itu, akan bertumbuh secara tidak wajar. Kalau menemui sebuah koperasi yang tiba2 mengelola dana sampai puluhan miliar dalam waktu singkat, harap berhati-hati. Kemudian, koperasi legal juga sering mengadakan rapat AD/ART dengan para anggotanya, sedangkan koperasi bodong tidak pernah. Silahkan lakukan pengecekan seperti itu sebelum bermitra dengan koperasi.

Untuk pertanyaan2 lainnya, karena keterbatasan waktu maka akan dikumpulkan dan didiskusikan oleh tim internal KBC Indonesia untuk nanti dijawab bersamaan di Youtube KBC Indonesia.

Penulis sendiri ingin memberikan pesan bahwa kita semua dalam satu perahu dalam menghadapi pandemi ini. Mari kita tetap bertahan, bersabar, dan bergerak. Patuhi himbauan pemerintah, tetap dukung upaya2 yang dilakukan, serta terus semangat dan pelihara harapan. Percayalah, badai ini pasti berlalu.

undefined

Disclaimer: Semua pernyataan dan tulisan di atas adalah hasil saduran dari E-Meeting yang diikuti oleh penulis. Penulis sudah berupaya menulis apa adanya berdasarkan yang didengarkan oleh penulis. Apabila ada perbedaan tafsiran dan maksud, silahkan diskusikan lebih lanjut di kolom komentar. Penulis tidak memiliki kepentingan politik apapun atas tulisan ini, dan tidak disponsori oleh pembicara maupun moderator. Mohon mengutarakan komentar/kritik yang membangun serta menggunakan bahasa yang baik dan sopan. Terimakasih.